Selasa, 24 Juli 2012

FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA TERHADAP ANAK


FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA TERHADAP ANAK

Berbicara mengenai fungsi orang tua dalam keluarga, sangat kompleks. Karena begitu banyaknya beban yang harus dilaksanakan oleh para orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Disamping memenuhi kebutuhan pokok, seperti pakaian dan makanan, maka orang tau berkewajiban untuk memberi bimbingan dan contoh yang baik pada anak-anak agar.
Adapun fungsi pokok daripada orang tua ada tiga bagian, yaitu sebagai berikut :
a.       Fungsi Ketuhanan
Fungsi ketuhanan adalah suatu tanggung jawab orang tua yang paling pokok, karena dengan adanya agama akan dapat menjamin keselamatan anak, baik didunia maupun akhirat. Dalam al Quran surat Luqman ayat 17 dijelaskan :

baca selengkapnya

Petunjuk : Setalah diklik baca selanjutnya akan masuk keruang  Adf.ly   bagian atas sebelah kanan ada bacaan  harap tunggu  lalu muncul  bacaan  LEWATI  silahkan di klik lewati untuk masuk ruang  baca lengkap

PERANAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


PERANAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Pendidikan Agama  Islam adalah merupakan saran pendidikan yang sangat penting, merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dengan jalan kehidupan, karena pendidikan sangat menentukan anak di masa yang akan datang. Dalam hal ini penulis akan mengemukakan beberapa pendapat ahli dalam mendefinisikan pendidikan Agama Islam.
a.       Menurut Zuharirini, dkk, pendidikan agama Islam adalah “usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mnereka hidup sesuai dengan ajaran Islam”.

baca selengkapnya

KEPRIBADIAN ANAK DIDIK DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA


KEPRIBADIAN ANAK DIDIK DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Menurut Agus Sujanto yang dimaksud kepribadian adalah "kepribadian berasal dari kata personality ( bahasa Inggris) yang berasal dari persona (bahasa Latin) yang berarti kedok atau topeng. Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku watak pribadi seseorang".[1]
Gordon W.Allport berpendapat kepribadian adalah "organisasi dinamis dalam diri manusia (individu) yang terdiri dari sistem psiko fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik dari individu tersebut terhadap lingkungannya".

baca selengkapnya

SEJARAH MADRASAH DI INDONESIA DAN PERKEMBANGANNYA


SEJARAH MADRASAH DI INDONESIA DAN PERKEMBANGANNYA

Tumbuh dan berkembangnya madrasah diniyah di Indonesiatidak dapat dipisahkan dengan tumbuh dan berkembangnya ide-ide pembaharuan pemikiran dikalangan ummat Islam. Dipermulaan ke 20 timbul beberapa perubahan pemikiran dikalangan umat Islam. Di permulaan abad ke 20 timbul beberapa perubahan pemikiran bagi umat Islam Indonesia dengan masuknya ide-ide pembaharuan.
Adapun beberapa faktor pendorong timbulnya ide-ide pembaharuan tersebut adalah :
  1. Adanya kecendrungan umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits. Kecendrungan ini dijadikan titik tolak dalam menilai kebiasaan agama dan kebudayaan yang ada. Ide pokok dari keinginan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits dalam rangka menolak munculnya taklid dan tahayul

Senin, 23 Juli 2012

PEMBELAJARAN KREATIF (CREATIVE LEARNING)


PEMBELAJARAN KREATIF (CREATIVE LEARNING)

Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru dapat memotivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang variatif, misalnya kerja kelompok, pemecahan masalah dan sebagainya.
Pembelajaran kreatif mengharuskan guru untuk mampu merangsang peserta didik memunculkan kreatifitas, baik dalam konteks kreatif berfikir maupun dalam konteks kreatif melakukan sesuatu. Kreatif dalam berfikir merupakan kemampuan imajinatif namun rasional. Berfikir kreatif selalu berawal dari berfikir kritis yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu yang sebelumnya tidak baik. Tak seorangpun akan mengingkari bahwa kemampuan dan ciri-ciri kepribadian sampai tingkat tertentu dipengaruhi oleh oleg faktor lingkungan seperti keluwarga dan sekolah. Kedua lingkungan pendidikan ini dapat berfungsi sebagai pendorong (press) dalam pengembangan kreatifitas anak

baca selengkapnya


PEMBELAJARAN AKTIF (ACTIVE LEARNING)


PEMBELAJARAN AKTIF (ACTIVE LEARNING)

Pembelajaran aktif merupakan model pembelajaran yang lebih banyak melibatkan siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan kompetensinya. Selain itu, belajar aktif juga memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan analitis dan sistensis serta mampu merumuskan nilai-nilai baru yang diambil dari hasil analisis mereka sendiri. Model pendekatan ini, hampir tidak jauh berbeda dengan model pembelajaran self discovery learning, yakni pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk menemukan kesimpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan peserta didik.

baca selengkapnya

SKBM


SKBM

                   SKBM adalah tingkat pencapaian kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per mata pelajaran. Siswa yang hasil belajarnya belum mencapai nilai SKBM dikatakan belum tuntas, adapun penentunnya melalui analisis ketuntasan belajar minimal setiap indikator dan menjadi kewenangan setiap guru.
Tujuan penetapan SKBM adalah menentukan target kompetensi yang akan dicapai siswa, dan juga sebagai acuan atau dasar untuk menentukan kompeten atau tidak kompetennya siswa dalam mengikuti suatu mata pelajaran tertentu.
Adapun manfaat penetapan SKBM adalah : sekolah atau guru dan siswa memiliki patokan/dasar yang jelas dalam menentukan ketuntasan hasil belajar siswa, dan adanya keseragaman batas ketuntasan setiap mata pelajaran pada kelas pararel.


2. Rambu-rambu Penentuan SKBM
SKBM ditetapkan pada awal tahun pelajaran bersama-sama dengan seluruh unsur guru yang biasanya tergabung dalam forum MGMP di sekolah. Selanjutnya nilai SKBM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0 – 100. Nilai ketuntasan belajar maksimal adalah 100, dan sekolah dapat menetapkan SKBM dibawah nilai ketuntasan belajar maksimal disesuaikan dengan kualitas dan kuantitas sekolah atau madrasah yang bersangkutan.
Adapun dalam menetapkan SKBM perlu diperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut :
a.  Tingkat Essensial (Kepentingan)
b.  Kompleksitas (kesulitan dan kerumitan materi)
c. Daya dukung, yaitu ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana pendidikan yang sangat dibutuhkan, manajemen sekolah, kepedulian stakeholders sekolah.
d.  Intake siswa, yaitu tingkat kemampuan rata-rata siswa, dimana SKBM untuk kelas VII harus didasarkan pada nilai hasil penerimaan siswa baru, kemudian SKBM kelas VIII dan IX didasarkan pada tingkat pencapaian SKBM siswa pada semester atau kelas sebelumnya.
Selanjutnya teknik menghitung SKBM dengan rentang nilai 0 – 100. Misalnya;
- Pada kriteria Essensial :
  SE (Sangat Essensial) = 80 – 100
  CE (Cukup Essensial) = 60 – 79
- Pada kriteria Komplesitas :
  Tinggi            = 50 – 65
  Sedang          = 66 – 80
  Rendah          = 81 – 100

- Pada kriteria Daya Dukung :
  Tinggi            = 85 – 100
  Sedang          = 70 – 84
  Rendah          = 55 – 69
- Pada kriteria Intake Siswa
  Tinggi            = 80 – 100
  Sedang          = 60 – 79
  Rendah          = 40 - 59
 Selanjutnya cara menentukan SKBM yaitu :
1. Dilakukan analisis ketuntasan belajar minimal per indikator
2. SKBM kompetensi dasar diperoleh dari rata-rata SKBM indikator yang terkait
3. SKBM Standar Kompetensi diperoleh dari rata-rata SKBM Kompetensi Dasar yang terkait
4. Nilai SKBM setiap mata pelajaran merupakan rata-rata SKBM Standar Kompetensi dalam semester terkait pada semester tersebut.
Selanjutnya dikaitkan dengan pendidikan yang terus berkembang, kita kenal istilah konsep belajar tuntas. Belajar tuntas adalah satu filsafat yang mengatakan bahwa dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Pandangan ini jelas menolak pandangan yang mengatakan bahwa tingkat keberhasilan siswa disekolah sangat ditentukan oleh tingkat kecerdasan bawaannya atau IQ-nya.
Belajar tuntas ini sebenarnya sudah ada sejak enam puluh tahun yang lalu tatkala C. Washburn dan H.C. Marison mengembangkan suatu sistem pengajaran sehingga semua siswa diharapkan dapat menguasi sejumlah tujuan pendidikan.
Bahan pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut dibagi atau unit-unit. Setiap unit terdiri dari bahan-bahan pelajaran yang diurutkan secara singkat sistematik dari yang mudah ke bahan yang sukar. Setiap siswa diharuskan menguasai satu unit pelajaran sebelum diperbolehkan untuk mempelajari unit pelajaran berikutnya. Bagi siswa yang gagal menguasai satu unit pelajaran tertentu harus diberikan unit pelajaran perbaikan.
Ada 4 cara yang digunakan oleh H.C. Morrison dalam program perbaikannya yaitu :
1. Mengulang kembali mengajar bahan pelajaran
2. Menuturkan siswa
3. Menyusun kembali aktifitas belajar siswa
4. Mengadakan perbaikan terhadap kebiasaan iswa dalam cara belajarnya.
            Dipandang dari sudut pendidikan memang cara belajar mengajar dengan menggunakan prinsip belajar tuntas sangatlah menguntungkan siswa, karena hanya dengan cara tersebut setiap siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik juga akan mempunyai imbas pada pandangan bahwa semua guru dapat mengajar dengan baik. Karena itu, pengertian mengenai belajar tuntas dirasakan perlu dimantapkan.





untuk melengkapi perpustakaan makalah silahkan klik download dibawah ini
semoga bermanfaat